Info Sekolah
Jumat, 27 Jan 2023
  • SMK NEGERI 1 LOBALAIN Jl. Baa - Busalangga, Dusun Tilonisi, Holoama, Kec. Lobalain, Kab. Rote-Ndao Prov. Nusa Tenggara Timur

WISATA USAHA MIKRO BUDIDAYA JAMUR TIRAM DI ROTE NDAO PADA MASA LIBURAN

Diterbitkan :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Wisata merupakan sebuah aktifitas yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan bepergian bersama-sama dengan tujuan memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan lain sebagainya. Berdasarkan alasannya, wisata dibagi menjadi beberapa jenis. Salah satunya adalah wisata pendidikan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan memperdalam ilmu. Wisata pendidikan bisa dilakukan dengan mengunjungi tempat budidaya, tempat penangkaran hewan dan sebagainya.

Berkaitan dengan wisata pendidikan, penulis memilih wisata di tempat usaha mikro khususnya, Budidaya Jamur Tiram. M. Tohar mengatakan bahwa usaha mikro adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Usaha mikro dapat memberi dampak positif bagi daerah tempat usaha tersebut berkembang, ini menandakan bahwa usaha mikro memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian rakyat.

Salah satu usaha mikro adalah budidaya yang dilakukan oleh masyarakat. Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia yang menyatakan bahwasanya budidaya adalah upaya yang memberikan manfaat dan akan menghasilkan hasil. Jadi proses budidaya di dalam pertanian sendiri dinyatakan sebagai sebuah proses inti dari usaha bertani. Sebagai sebuah proses yang akan membuahkan hasil, nantinya usaha budidaya pertanian ini akan mengandalkan penggunaan dari media tanam berupa tanah maupun media jenis lain di sebuah lahan agar bisa mengelola dan membesarkan tanaman. Setelah melakukan proses pengelolaan di dalam budidaya maka akan dilakukan pemanenan hasil seperti layaknya Hortiultura. Salah satunya adalah budidaya Jamur Tiram.

Jamur Tiram adalah salah satu jenis jamur yang bisa tumbuh di Indonesia. Jamur ini biasanya tumbuh pada kayu – kayu yang sudah lapuk, dengan syarat tumbuh jamur tiram tergantung dari sumber nutrien, suhu, kelembapan, air, cahaya, udara dan keasaman.

Disebut dengan nama Jamur Tiram, karena secara morfologis, jamur mempunyai bentuk pada tudung jamur seperti kulit kerang ( Tiram ). Jamur yang mempunyai tudung seperti kulit kerang ( Tiram ) yang mempunyai warna putih bersih. Dengan batang jamur yang bervariasi panjangnya, tergantung kondisi lingkungan dimana jamur tumbuh. Pada umumnya panjang tangkai jamur 2 cm sampai dengan 6 cm, dengan besar tudung yang menyesuaikan besar dari tangkai jamur.

Jamur Tiram mempunyai rasa yang khas. Ada kekenyalan pada teksturnya ketika di masak dengan cara perebusan maupun penggorengan. Ada yang mengatakan rasanya mirip rasa daging ayam yang dibuat menjadi sup. Jika digoreng, Jamur Tiram mempunyai rasa yang eksotis di lidah dan lezat.

Dilihat dari manfaatnya, Jamur Tiram mempunyai manfaat yang sangat banyak untuk kesehatan dan keseimbangan metabolisme tubuh manusia. Jamur tiram mempunyai kandungan beragam antioksidan yang berguna dalam mencegah penyakit kronis dalam tubuh dan penuaan pada kulit. Hal ini dapat menangkal radikal bebas dalam tubuh manusia. Sangat disarankan bagi seseorang yang ingin mencegah dari berdampaknya penyakit Diabetes Mellitus, pertumbuhan tumor, kanker, dan kolesterol darah. Jamur Tiram memiliki kalori yang rendah, sangat cocok dikonsumsi oleh penderita penyakit jantung dan orang yang menjalankan program diet sehat.  Menurut Muljowati ( 2015 ) Jamur tiram juga bermanfaat dalam menambah vitalitas, memperlancar buang air besar serta meningkatkan daya tahan tubuh karena Jamur Tiram mengandung nutrisi yang baik bagi kesehatan tubuh. Nutrisi yang terkandung didalamnya diantaranya; Protein, Karbohidrat, Serat, Vitamin A, Vitamin D, Vitamin B4 atau kolin, Vitamin B9 atau asam folat. Berbagai jenis mineral, termasuk zat besi, fosfor, kalsium, kalium, zinc, dan selenium.

Berdasarkan uraian di atas, di masa pandemi yang serba adanya banyak kesulitan dan masalah ekonomi di kalangan masyarakat kecil, muncullah ide usaha bertani Jamur Tiram di Kabupaten Rote Ndao dan tepatnya di Desa Holoama. Usaha bertani Jamur Tiram ini dilakukan oleh Bapak Johanis Kristian Sollo, yang kesehariannya sebagai petani penanam padi tadah hujan. Dengan pengalaman yang dia dapatkan dengan belajar secara otodidak, akhirnya dia memberanikan diri untuk mencoba usaha menanam Jamur Tiram dan sekaligus dia memasarkan dengan melalui sosial media ( Facebook dan Whatsapp ). Disamping penjualan dari Jamur Tiram bisa memenuhi kebutuhan ekonomi , Jamur Tiram bisa memenuhi asupan nutrisi dalam tubuh. Dengan alasan tersebut dia bertekad membudidayakan Jamur Tiram di rumahnya yang kosong.

Penulis mengangkat “Wisata Usaha Mikro Budidaya Jamur Tiram di Rote Ndao” sebagai judul artikel pada lomba ini karena salah satu Tema Lomba, diantaranya yaitu Tema Pengembangan Ekonomi Masyarakat.  Penulis berfikir bahwa Ide dan gagasan yang dilakukan oleh Bapak Johanis Kristian Solo tersebut sangatlah menginspirasi petani yang lain untuk mengembangkan diri dalam bidang apapun dengan terus belajar mandiri melalui media yang ada. Beliau bisa membaca peluang yang ada di masa yang tidak menentu di masa pandemi ini dengan sambil menunggu masa tanam dan panen tiba. Pemanfaatan waktu yang beliau pergunakan sangat menginspirasi kita, baik sebagai  pekerja swasta maupun Aparat Sipil Negara ( ASN ).

Disamping media tanam yang mudah didapat yang mana serbuk kayu yang diambil dari tempat mebel di sekitar rumahnya yang kebetulan dikelilingi oleh tetangga yang memiliki usaha mebel. Dari fakta tersebut, beliau berfikir untuk membuat  Budidaya pertanian Jamur Tiram, dengan beberapa kemudahan akan kesediaan media yang ada di sekitarnya serta belum ada petani Jamur Tiram yang lain di kabupaten Rote Ndao sebagai pesaing.

Budidaya Jamur Tiram ini bisa dilakukan sebagai pengisi waktu luang sebagai seorang petani, selain menanam padi. Tetapi dibutuhkan seseorang yang harus sabar dan telaten dalam pemeliharaan dan perawatannya, agar pertumbuhan dan perkembangannya sesuai harapan. Budidaya ini bisa sebagai tambahan sumber mata pencaharian ekonomi keluarga dan pengembang taraf hidup masyarakat setempat. Di lain pihak, penulis sangat menyukai bahan makanan yang bersifat meningkatkan imunitas kesehatan tubuh manusia, melengkapi asupan gizi dimana adanya kenaikan harga bahan makanan yang merangkak naik, Jamur Tiram sebagai alternatif bahan lauk yang menyehatkan dan bergizi, sehingga penulis memutuskan melakukan Wisata yang mendidik, mengilhami, dan menginspirasi sebagai tenaga pendidik khususnya, bahwa semua orang bisa berkembang, tidak memandang status sosial dan tingkat pendidikannya, yang penting dilakukan dengan semangat dan pantang menyerah, maju terus pantang mundur, pasti bisa, seperti harapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur tercinta.

Jamur Tiram ini dibudidayakan dalam sebuah rumah kosong yang disebut dengan Rumah Jamur. Rumah jamur disarankan berlantaikan tanah agar bisa menyerap air yang jatuh dari percikan semprotan pada jamur tiram.  Rumah jamur harus bersih dari kotoran serta didiamkan selama dua hari sebelum baglog – baglog dimasukkan.  Di dalam rumah jamur itu disusun rak-rak bertingkat untuk menaruh baglog-baglog atau media tanam yang merupakan media tempat bibit jamur tiram. Rak-rak bisa terbuat dari kayu atau bambu. Rak – rak disusun dengan jarak berupa lorong yang dapat mempermudah jalan masuk keluarnya petani ketika melakukan perawatan dan pemeliharaan Jamur Tiram.

Pada ujung baglog dibuat lubang tempat tumbuhnya Jamur Tiram menyembul keluar. Penyusunan baglog itu bisa dilakukan menyamping untuk memudahkan pemanenan ataupun disusun secara vertikal ( berdiri ) untuk mempermudah saat penyiraman air.

Pemilihan bibit Jamur Tiram yang berkualitas juga perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Pengusaha Jamur Tiram  dalam skala besar biasanya membuat sendiri benih bibit Jamur Tiram, sedangkan pengusaha skala kecil cenderung membeli, agar mereka dapat konsentrasi pada pemeliharaan pertumbuhan dan perkembangan Jamur Tiram.

Baglog-baglog itu sudah diisi dengan serbuk kayu dan bahan lainnya. Adapun tambahan lain yaitu serbuk kayu, kapur, dan dedak dari kulit padi. Percampuran dilakukan dalam keadaan bahan-bahan (serbuk kayu, dedak / bekatul, dan kapur ) yang sudah diayak terlebih dahulu, sehingga media bertekstur halus lembut seperti tepung. Adapun perbandingan pencampurannya dari bahan-bahan tersebut adalah 100 kg serbuk kayu, 10 kg dedak (bekatul) dan 3,5 kg kapurnya. Media tersebut dicampur dan diaduk rata, ditambahkan air sebesar 60%.   Kemudian akan dilakukan proses penyetiman dari rentan waktu enam sampai dengan delapan jam. Proses penyetiman ini sangat penting agar medianya steril dari kemungkinan tumbuhnya jamur yang lain yang beracun. Salah satu faktor kegagalan juga dapat terjadi jika proses penyetiman kurang lama, sehingga pertumbuhan bibit akan terganggu dan rusak. Bibit akan batal menjadi benih karena ada gangguan dari bakteri maupun gulma yang lain.

Sesuai dengan sifat tumbuh dan berkembangnya Jamur Tiram, ini membutuhkan suhu ruang tertentu dengan perlakuan-perlakuan khusus. Untuk menjaga kelembaban  ruangan penyimpanan dan pembudidayaan baglog, ruangan harus disiram dengan air. Apalagi jika musim kemarau, maka ruangan harus tetap dijaga kelembabannya dari sinar matahari yang terik di luar tempat penyimpanan baglog. Suhu ruang yang dibutuhkan adalah suhu ruang yang bersifat lembab dan pencahayaan yang kurang. Lebih disarankan pada ruangan yang memiliki cahaya yang temaram yang masuk ke ruangan penyimpanan baglog dari Jamur Tiram. Ruang cenderung gelap akan membuat pertumbuhan jamur lebih baik. Jika suhu ruang kurang lembab serta cahaya yang masuk ke ruangan terlalu terang maka akan berakibat benih akan mengalami kekeringan dan gagal tumbuh.

Oleh karena itu Jamur tiram juga membutuhkan penyiraman air pada awal pembudidayaan. Tetapi penyiraman ini dilakukan pada tanah di rumah jamur. Penyiraman tidak bisa dilakukan pada awal pembenihan pada baglog, tetapi dilakukan setelah panen pertama. Jika miselliumnya sudah membesar dan memutih semua maka penyiramannya dilakukan sebanyak dua kali sehari pagi dan sore dengan kapasitas air yang secukupnya yaitu dengan sistem penyemprotan berbentuk kabut, bukan tetesan air.  Jika misellium jamur sudah cukup besar , bisa disiram satu kali saja, untuk menjaga kualitas jamur tidak rusak dan tudungnya tetap bagus.

Proses pemanenan akan dilakukan jika tudung Jamur Tiram sudah memenuhi lubang yang dibuka. Ini biasanya membutuhkan waktu 2 – 3 minggu agar Jamur Tiram bisa dipanen. Pemeliharaan pada baglog sangat penting karena akan mempengaruhi rentan fungsinya untuk tetap bisa berproduksi. Biasanya bisa sampai 5 – 8 kali panen jika perawatan dan pemeliharaan Jamur Tiramnya baik. Panen dilakukan jika jamur sudah membesar dan mekar. Warna masih putih. Proses pemanenan harus tepat waktu supaya tidak mempengaruhi kualitas dari Jamur Tiram.

Disamping itu dalam hal penjualan dan pemasaran Jamur Tiram masih sangat bagus prospeknya. Penjualan berjalan lancar, bahkan kadang stok Jamur Tiram tidak mencukupi untuk melayani permintaan yang ada. Banyak konsumen yang sadar akan manfaat jamur Tiram dan pentingnya kesehatan, dengan rasanya yang lezat sangat menggugah selera makan, mereka berlomba memesan saat pemanenan dilakukan, yang mana sistem penjualan dilakukan secara online baik dengan media sosial facebook maupun Whatsapp. Dengan merasakan manfaat yang menyehatkan dengan mengkonsumsi jamur Tiram, demikian juga bisa divariasikan dalam memasaknya, tergantung selera masing-masing, bisa dibuat sup, digoreng dengan tepung, dibuat tumis, dibuat capjay, dan sebagainya.

Wisata Usaha Mikro Budidaya Jamur Tiram di Rote Ndao pada Masa Liburan benar-benar menghibur dan bisa menambahkan wawasan pendidikan dan membuka cakrawala berfikir sebagai seorang pendidik untuk tetap semangat belajar dimanapun dan kapanpun. Sebagai bahan perbandingan dan khazanah ilmu dalam pikiran dan tema mengajar seorang tenaga pendidik. Penulis berharap tulisan ini akan berguna sebagai bahan referensi bagi penulis berikutnya yang menulis tentang hal yang sama. Tulisan ini bisa menginspirasi bagi pembaca bahwa wisata usaha mikro budidaya Jamur Tiram sebagai wisata alternatif  dan merupakan wisata yang menyenangkan di masa liburan.

Oleh : Agus Hartatik, SS, M.Pd

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar